Dalam kesempatan tersebut, Bupati Muharram Idris secara resmi membuka kegiatan launching situs web Galeri Budaya Aceh yang dirangkai dengan pemutaran film serta diskusi budaya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Karya Kreatif Inovatif Dana Indonesiana yang didukung Kementerian Kebudayaan.
Kehadiran Bupati dalam acara tersebut menjadi bentuk dukungan konkret Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terhadap upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan, khususnya dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi.
Dalam sambutannya saat membuka secara resmi kegiatan itu, Bupati Muharram Idris menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan sejarah serta budaya sebagai bagian dari identitas rakyat Aceh.
“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk merangsang dan memberikan edukasi kepada masyarakat. Kita memiliki sejarah panjang dan pernah mencapai kemajuan besar di masa lalu. Karena itu, kita sebagai orang Aceh harus mengetahui dan memahami sejarah kita sendiri,” ujar Bupati.
Ia juga menekankan bahwa pelestarian budaya tidak hanya terbatas pada benda fisik seperti situs sejarah dan artefak, tetapi juga mencakup bahasa sebagai bagian penting dari identitas daerah dan jati diri sebuah bangsa.
Menurutnya, tantangan pelestarian budaya saat ini semakin kompleks seiring dengan pengaruh urbanisasi, transmigrasi, dan perkembangan zaman yang turut memengaruhi pola kehidupan masyarakat. Ia pun mengajak semua pihak menjaga bahasa Aceh.
“Bahasa Aceh harus terus kita jaga. Generasi yang ideal adalah yang mampu memahami dan menggunakan bahasa Aceh sekaligus bahasa Indonesia. Ini penting agar jati diri kita tidak hilang,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bupati mengingatkan bahwa bangsa yang melupakan budaya dan bahasanya akan kehilangan jati diri. Itu sebabnya, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan warisan budaya Aceh.
“Kita harus kembali memperkuat jati diri sebagai orang Aceh. Nenek moyang kita adalah generasi yang tangguh, dan itu harus menjadi inspirasi bagi generasi saat ini,” tambahnya.
Peluncuran situs web Galeri Budaya Aceh ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam upaya digitalisasi arsip budaya, sehingga berbagai warisan sejarah dapat terdokumentasi dengan baik dan diakses oleh masyarakat luas dari berbagai penjuru dunia.
Selain seremoni peluncuran, kegiatan ini juga diisi dengan pemutaran film bertema budaya serta diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pegiat sejarah dan budaya Aceh. Forum ini menjadi ruang dialog yang produktif dalam merumuskan langkah-langkah penguatan ekosistem budaya di Aceh.(*)

